BUDAYA
HEDONISME TERHADAP MORAL REMAJA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengaruh globalisasi berimbas kepada pemenuhan
kebutuhan gaya hidup anak zaman sekarang. Menurut Adler (2005: 97) bahwa gaya
hidup merupakan cara yang unik dari setiap orang dalam berjuang mencapai tujuan
khusus yang telah ditentukan orang itu dalam kehidupan tertentu dimana seorang
individu berada. Perilaku gaya hidup hedonisme yang tampak di kalangan
mahasiswa saat ini, disamping adanya perubahan dari kehidupan masyarakat
modern, diyakini pula adanya perubahan pada proses perkembangan individu. Hal
ini ditandai dengan keinginan untuk mandiri dan mencari konsep diri. Gaya hidup
hedonisme menimbulkan kecenderungan munculnya tingkah laku individu melalui
interaksi sosial antara individu satu dengan individu lain, guna memperoleh
kesenangan dan kebebasan untuk mencapai kenikmatan hidup. Budaya hedonisme ini
tidak hanya dapat merusak generasi penerus bangsa, namun juga dapat
mengakibatkan dampak yang buruk bagi perkembangan dunia pendidikan serta bagi
kehidupan bangsa Indonesia. Melihat hal tersebut maka perlu ada antisipasi baik
dari pemerintah maupun bagi mahasiswa. Pengaruh gaya hidup hedonisme begitu
nyata di kalangan masyarakat terutama pada remaja. Remaja merupakan generasi
penerus bangsa yang masih mengalami krisis identitas dalam mencari jati diri,
mahasiswa akan mulai mengenali diri mereka melalui lingkungan sekitar. Remaja sangat
antusias dengan hal-hal baru, gaya hidup hedonisme ini dianggap menarik,
mengingat gaya hidup hedonisme ini memiliki daya tarik yang besar terhadap
kehidupan remaja.
Gaya hidup hedonisme wujud dari ekpresi atau prilaku
yang di miliki oleh remaja untuk mencoba suatu hal yang baru. Dimana remaja
tersebut lebih mementingkan kesanangan dari pada melakukan hal yang lebih
positif. Hedonisme sebagai fenomena dan gaya hidup sudah tercermin dari prilaku
mereka sehari-hari. Remaja sangat antusias terhadap adanya hal yang baru. Gaya
hidup hedonisme sangat menarik bagi mereka, dimana prilaku pada remaja hanya
menginginkan kesenangan. Perilaku tersebut lama kelamaan mengakar dalam
kehidupan masyarakat termasuk para remaja yang pada akhirnya menjadi seperti
sebuah budaya bagi mereka tingkat pengetahuan dan pendidikan juga sangat
berpengaruh pada pembentukan sikap mental para remaja. Tapi sayangnya kadang
semua hal itu terkalahkan dengan rendahnya cara berfikir mereka dalam menyikapi
berbagai persoalan. Banyak diantara para remaja yang melarikan diri dari
masalah dengan berhura-hura, kebiasaan seperti inilah yang kemudian menjadi
kebudayaan di kalangan remaja. Mereka cenderung hanya ingin bersenang-senang
dengan teman-temannya dan mereka tidak mau belajar, apa bila mereka di nasehati
maka mereka akan marah dan tidak terima, mereka menganggap bahwa mereka yang benar.
Mereka cenderung tidak pernah memanfaatkan waktunya dengan baik karna waktunya
habis untuk bermain dan bersenang-senang.
Keluarga merupakan salah satu sumber yang menyebabkan
kenakalan remaja. Hal ini disebabkan karena anak tersebut hidup dan berkembang
dari pergaulan keluarga yaitu antara orang tua dengan anak, bapak dengan ibu,
anak dengan anggota keluarga lain yang tinggal bersama. Sebagai orang tua
sangatlah penting
untuk mengawasi anaknya agar tidak terjerumus dengan pergaulan yang tidak baik.
Mengingat banyak sekali faktor yang mendorong kenakalan remaja yang berasal
dari lingkungan keluarga seperti contoh kurangnya mendapatkan kasih sayang dan
perhatian dari orang tua maka seorang anak akan mencari kasih sayang di luar
rumah, seperti dikelompok kawan-kawannya sedangkan tidak semua teman-temannya
mempunyai keluakuan baik, maka peran orang tua untuk memberikan kasih sayang
juga perhatian itu sangat penting. Selain memberikan kasih sayang kepada
anaknya peran orang tua juga harus bisa menjaga keluarga agar utuh dan
interaksi diantara anggota keluarga berjalan dengan baik, karna faktor tidak
harmonisnya keluarga itu juga bisa menjadi penyebab kenakalan si anak karna
seorang anak tidak akan merasa nyaman apabila berada di dalam rumah, apabila
ibu dan ayah sering bertengkar, pertengkaran biasanya terjadi karna ketidak
samanya pendapat maka anak tersebut akan merasa ragu akan kebenaran yang harus
ditegakan.
Seperti yang kita ketahui kenakalan remaja banyak
sekali penyebabnya dari faktor orang tua, faktor yang ada didalam diri anak itu
sendri, faktor masyarakat atau lingkungan, faktor yang berasal dari sekolah,
dan faktor perkembangan jaman atau semakin canggihnya teknologi. Sekarang ini
perkembangan jaman dan juga perkembangan teknologi yang semakin berkembang itu
sangat mempengaruhi untuk mendorong remaja untuk melakukan gaya hidup
hedonisme, dimana mengutamakan kesanangan, kepuasan, juga rasa ingin tahu atau
mencoba hal-hal yang baru yang membuat hati senang dan tidak peduli akan
lingkungan disekitar, baik itu yang dilakukan positif maupun negatif.
Hedonisme sebagai fenomena dan gaya hidup sudah tercermin dari perilaku mereka
sehari-hari. Mayoritas pelajar berlomba dan bermimpi untuk bisa hidup mewah.
Berfoya-foya dan nongkrong di kafe, mall dan plaza.Ini merupakan bagian dari
agenda hidup mereka.
Manusiawi memang tatkala manusia hidup untuk mencari
kesenangan, karena sifat dasar manusia adalah ingin selalu bermain (homo
ludens = makhluk bermain) dan bermain adalah hal hakiki yang senantiasa
dilakukan untuk memperoleh kesenangan. Akan tetapi bukan berarti kita bisa
dengan bebas dan brutal mendapatkan kesenangan, hingga menghalalkan berbagai
cara demi memperoleh kesenangan.Sikap menghalalkan segala cara untuk
memperoleh kesenangan telah banyak menghinggapi pola hidup para remaja saat ini.
Ternyata luar biasa pengaruh budaya liberal sehingga berhasil mencengkram
norma-norma kesusilaan manusia. Tidak salah lagi ini suatu propaganda yang
sukses mengakar dalam jiwa-jiwa pemuja hedonisme. Namun ironisnya, mereka para
pemuja kesenangan dunia semata, tak menyadari bahwa hal yang dilakukannya
adalah perilaku hedon.
Hedonisme adalah suatu pandangan hidup yang menganggap
bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Saat ini,
budaya hedonisme sudah menjadi propaganda barat yang sukses dan mengakar
dalam jiwa-jiwa remaja. Namun ironisnya, mereka para pemuja
kesenangan dunia semata, tak menyadari bahwa hal yang mereka
lakukan adalah perilaku hedon. Oleh sebab itu, paham ini memberikan kontribusi
negatif terhadap idiologi para remaja yang membuat mereka berani menghalalkan
segala cara demi tercapainya kesenangan, dan menjadikan remaja saat ini
memiliki mental yang lemah disertai dengan pemikiran yang sempit.
Manusia sangat antusias dengan hal-hal yang baru.
Daya pikatnya luar biasa sehingga ada kecenderungan untuk
memilih lebih baik hidup enak, mewah, dan serba berkecukupan tanpa
bekerja keras. Seolah titel “remaja yang gaul dan funky” adalah
predikat yang harus diraih dan baru melekat bila mampu memenuhi
standar tren saat ini.Sikap dan sifat inilah yang kini dikenal dengan istilah
“Budaya Hedonisme”. Jika kecenderungan hedonisme ini terlalu berlebihan dan
tidak dikekang, maka seseorang akan terjerumus pada kecenderungan untuk
bersenang-senang belaka dan berusaha untuk meraih kesenangan tersebut dengan
menghalalkan segara cara serta keluar dari norma-norma moral.
Contoh yang kita hadapi saat ini misalnya, segala
media informasi dari berbagai penjuru berusaha terus memperngaruhi diri kita
melalui life style. Gaya hidup yang terus disajikan bagaikan fast food melalui
media televisi. Gambaran yang ada seperti mimpi tentang kehidupan orang miskin
yang tiba-tiba kaya layaknya dalam telenovela. Sinetron cinta yang terus
mengguyur dan memprovokasi kita untuk merealisasikan cinta lewat bercinta
membuat kita gila dan terbuai kehidupan duniawi. Cerita sinetron yang kian jauh
dari realita ternyata telah menyihir para pemirsa. Dengan setengah sadar para
penikmat sinema telah tergiring untuk meniru dan menjadikannya paradigma baru
dalam menikmati hidup di masa muda. Dan ketika Hedonisme sudah menjadi pegangan
hidup para muda mudi banyak nilai-nilai luhur kemanusiaan para remaja luntur,
bahkan hilang. Kepekaan sosial mereka terancam tergusur manakala mereka selalu
mempertimbangkan untung rugi dalam bersosialisasi. Masyarakat terlihat seperti
mumi hidup yang tak berguna bagi mereka. Dan mereka seolah menjadi penjaga
kerajaan kenikmatan yang tak seorangpun boleh mencicipinya. Orang lain hanya
boleh melongo melihat kemapanan mereka.Sungguh mereka menjadi sangat tidak
peduli. Akibatnya ketika ada orang yang membutuhkan uluran tangan, mereka
menyembunyikan diri dan enggan saling membantu.
Gaya hidup merupaan gambaran bagi setiap orang dimana
seberapa besar nilai moral orang tersebut dalam masyarakat disekitarnya. Gaya
hidup juga sangat berkaitan erat dengan perkembangan zaman dan
teknologi.Semakin bertambahnya zaman dan semakin canggihnya teknologi, maka
semakin berkembang luas pula penerapan gaya hidup oleh manusia dalam kehidupan
sehari-hari. Gaya hidup juga dapat memberikan pengaruh positif atau negatif
bagi yang menjalankannya, itu tergantung pada bagaimana orang tersebut. Menurut
Amstrong, gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh
individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan
barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada
penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.Lebih lanjut Amstrong menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor
yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari
luar (eksternal).
Dimana budaya hedonisme uang merupakan segala-galanya,
kesenangan dan hiburan yang dicari berlandaskan materi. Budaya ini sangat tren
sekali, masyarakat sudah berubah menjadi masyarakat yang berorientasi hanya
kepada materi semata. Terbukti dengan munculnya bermacam-macam FO (Factory
Outlet) di bandung, munculnya tempat-tempat hiburan malam, tempat karaoke dan
lain-lain. Masyarakat hedonisime, cenderung konsumtif. Mereka ingin membeli apa
saja yang baru dan menjadi tren. Yang dijadikan pedoman tren mereka adalah
seseorang yang mereka idolakan seperti selebritis. Mereka meniru, memuja, dan
ingin mirip dengan orang yang mereka puja, mereka akan melakukan apa saja untuk
dapat menjadi seperti itu. Sehingga mereka mulai kehilangan jati diri
masing-masing. Selain itu para remaja kota bandung ini cenderung ingin menjadi
sesuatu yang beda dari remaja-remaja kota lain baik itu cara gaya hidup, cara
berpakaian, cara berpenampilan, juga cara bagaimana mereka ingin di kenal dan
akui sebagai remaja yang mengikuti tren. Bukan hanya tren saja yang mereka tiru
juga berdampak pada cara tingkah laku yang meniru masyarakat barat yang
individual, cuek tidak menghiraukan orang lain dan juga cara bicara.
Maraknya gaya hidup hedonisme dikalangan remaja tentu
tidak lepas dari dampak positif dan negatif. Kegiatan hedon tentunya banyak
orang yang berfikir bahwa gaya hidup tersebut lebih banyak mengandung dampak
negatif, tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa ada pula dampak
positifnya, dan dampak positif dari gaya hidup hedonisme terbagi dua, eksternal
dan internal yaitu: Untuk dampak eksternal orang tersebut akan lebih terlihat
royal atau saling berbagi terhadap orang lain (memberikan barang-barang atau
hadih, mentraktir, menambah pemasukan bagi penjual barang). Hal tersebut
dikarnakan gaya hidup yang konsumtif sehingga membantu perekonomian para
pedagang, ataupun teman-temannya, karena orang yang memiliki gaya hidup
hedonisme ingin terlihat lebih eksis atau menonjol dari lingkungan sekitarnya.
Selain itu bagi diri sendiri atau internal dampak positif yang didapat dari
gaya hidup hedonisme yaitu dapat mengurangi tingkat stress dengan cara bersenang-senang
atau menghibur diri sendiri (wisata kuliner, shoping, traveling).
Hedonisme terjadi karena adanya perubahan perilaku
pada masyarakat yang hanya menghendaki kesenangan. Perilaku tersebut lama
kelamaan mengakar dalam kehidupan masyarakat termasuk para remaja yang pada
akhirnya menjadi seperti sebuah budaya bagi mereka tingkat pengetahuan dan
pendidikan juga sangat berpengaruh pada pembentukan sikap mental para remaja.
Tapi sayangnya kadang semua hal itu terkalahkan dengan rendahnya cara berfikir
mereka dalam menyikapi berbagai persoalan. Banyak diantara para remaja yang
melarikan diri dari masalah dengan berhura-hura. Kebiasaan seperti inilah yang
kemudian menjadi kebudayaan di kalangan remaja. Berangkat dari masalah
ini, penulis ingin memaparkan pengaruh budaya hedonisme terhadap moral remaja.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian di atas, rumuskann masalah yang dibahas sebagai berikut:
1.
Bagaimana
budaya hedonisme di kalangan remaja?
2.
Apa
dampak yang ditimbulkan dari hedonisme?
3.
Bagaimana
solusi menghadapi budaya hedonisme?
1.3 Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui bagaimanakah hedonism di kalangan remaja
2.
Untuk
mengetahui dampak yang ditimbulkan dari hedonisme
3.
Untuk
mengetahui bagaimanakah solusi dalam menghadapi budaya hedonisme
BAB II
TELAAH LITERATUR
2.1 Pengertian
Hedonisme
Hedonisme adalah paham sebuah aliran filsafat dari
Yunani. Tujuan paham aliran ini, untuk menghindari kesengsaraan dan menikmati
kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Kala itu, hedonisme masih
mempunyai arti positif. Dalam perkembangannya, penganut paham ini mencari
kebahagiaan berefek panjang tanpa disertai penderitaan. Mereka menjalani
berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa
agar mendapat kebahagiaan sejati. Namun, pada waktu kekaisaran Romawi menguasai
seluruh Eropa dan Afrika, paham ini mengalami pergeseran ke arah negatif dalam
semboyan baru hedonisme. Semboyan baru itu, carpe diem (raihlah
kenikmatan sebanyak mungkin selagi kamu hidup), menjiwai tiap hembusan napas
aliran tersebut. Kebahagiaan dipahami sebagai kenikmatan belaka tanpa mempunyai
arti mendalam.
Hedonisme menurut Pospoprodijo (1999:60) kesenangan
atau (kenikmatan) adalah tujuan akhir hidup dan yang baik yang tertinggi.
Namun, kaum hedonis memiliki kata kesenangan menjadi kebahagiaan. Kemudian
Jeremy Bentham dalam Pospoprodijo (1999:61) mengatakan bahwasanya kesenangan
dan kesedihan itu adalah satu-satunya motif yang memerintah manusia, dan beliau
mengatakan juga bahwa kesenangan dan kesedihan seseorang adalah tergantung
kepada kebahagiaan dan kemakmuran pada umumnya dari seluruh masyarakat. Adapun
hedonisme menurut Burhanuddin (1997:81) adalah sesuatu itu dianggap baik,
sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya. Disini jelas bahwa sesuatu yang
hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan dan tidak menyenangkan, dengan
sendirinya dinilai tidak baik. Orang-orang yang mengatakan ini, dengan
sendirinya, menganggap atau menjadikan kesenangan itu sebagai tujuan hidupnya.
Menurut Aristoteles dalam Russell (2004:243)
kenikmatan berbeda dengan kebahagiaan, sebab tak mungkin ada kebahagiaan tanpa
kenikmatan. Yang mengatakan tiga pandangan tentang kenikmatan: (1) bahwa semua
kenikmatan tidak baik; (2) bahwa beberapa kenikmatan baik, namun sebagian besar
buruk; (3) bahwa kenikmatan baik, namun bukan yang terbaik. Aristoteles menolak
pendapat yang pertama dengan alasan bahwa penderitaan sudah pasti buruk,
sehingga kenikmatan tentunya baik. Dengan tepat ia katakan bahwa tak masuk akal
jika dikatakan bahwa manusia bisa bahagia dalam penderitaan: nasib baik yang
sifatnya lahiriyah, sampai taraf tertentu, perlu bagi terwujudnya kebahagiaan.
Ia pun menyangkal pandangan bahwa semua kenikmatan bersifat jasmaniah; segala
sesuatu mengandung unsur rohani, dan kesenangan mengandung sekian kemungkinan
untuk mencapai kenikmatan yang senantiasa kenikmatan yang tinggal dan
sederhana. Selanjutnya ia katakan kenikmatan buruk akan tetapi itu bukanlah
kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang baik, mungkin saja kenikmatan
berbeda-beda jenisnya dan kenikmatan baik atau buruk tergantung pada apakah
kenikmatan itu berkaitan dengan aktivitas yang baik atau buruk.
Honis
O. Kallsoff dalam Soerjono Soemardjo (1996 : 359) manusia dalam kenyataannya
mencari kenikmatan (hedonisme psikologis) dengan prinsip yang mengatakan bahwa
mausia seharusnya mencari kenikmatan (hedonisme etis). Disini jelas bahwa
hedonisme ialah perbuatan yang diantara segenap perbuatan yang dapat dilakukan
oleh seseorang akan membawa orang tersebut merasakan kebahagiaan yang
sebesar-besarnya.
2.2 Sejarah Hedonisme
Hedonisme merupakan filsafat Yunani yang muncul
sekitar tahun 433 SM dengan bertujuan untuk mendokrinasi fikiran manusia agar
menjadikan kesenangan sebagai pegangan hidup dan menghindari penderitaan.Pada
awalnya hedonisme adalah sebuah konsep filsafat etika dan mempunyai arti
positif. Yaitu beranggapan bahwa kesenangan bukanlah sesuatu yang didasari
kesenangan akan tetapi kesejahteraan dan kebahagiaan karena orang yang senang
belum tentu bahagia.
Ketika kekaisaran romawi menguasai daratan Eropa dan
Afrika, pengertian tersebut berubah menjadi konotatif. Dengan menggunakan
semboyan baru yaitu Cerpe Diem (raihlah kenikmatan sebanyak mungkin selagi
masih hidup). Penekanan terhadap penganutnya untuk melakukan kesenangan
sebanyak mungkin karena hidup hanya sekali. Ada dua filosof Yunani yang tidak
bisa dikesampingkan yang dinilai mempunyai peranan signifikan dalam
pembangungan madzhab hedonisme, yaitu Aristippos (435-355 SM) dan
Epicuros of samus (341-270 SM). Aristippos dianggap sebagai pendiri
hedonisme yang merupakan murid terdekat Sokrates. Sedangkan Epicuros terkenal
dengan ajaran dan prinsipnya yang dikenal dengan ajaran Epicureanisme. Menurut
Epicuros, kesenangan yang paling tinggi adalah tranquility (kebahagiaan dan
kesejahteraan dari rasa takut) yang hanya bisa diperoleh dari
pengetahuan (knowledge), persahabatan (friendship) dan hidup
sederhana (virtuous and temperate life). Ia juga mengajarkan dalam
ajarannya untuk tidak boleh mencari kesenangan secara berlebihan dalam hasrat
jasmaniah (bodily desires). Oleh sebab itu, Epicuros menganjurkan untuk
hidup sederhana (enjoyment of simple pleasure). Sayangnya, Epicuros
tidak menjelaskan social etikanya secara panjang lebar. Dan mengalami kebuntuan.
Kebuntuan tersebut berakhir sampai ajaran ini berubah menjadi konotatif dari
ajaran semula.
Hedonisme diawali karena pertanyaan filsafat sokrates
yang menanyakan hal yang terbaik yang dapat menjadi tujuan akhir manusia. Lalu
Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik
bagi manusia adalah kesenangan. Aristippos menjelaskan bahwa manusia sejak
kecil selalu mencari kesenangan dan jika tidak dapat mencapainya, maka mereka
akan mencari sesuatu yang lain lagi yang bisa membuat senang. Pandangan tentang
“kesenangan” (hedonisme) kemudian dilanjutkan seorang filusuf Yunani lain yang
bernama Epicuros, (3434-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari
kesenangan adalah kodrat alamiah. Meskipun demikian, hedonisme
Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani (jasad) saja
seperti Kaum Aristippos -, melainkan terbebasnya jiwa dari keresahan dan
kesengsaraan.
Kesenangan
menurut Aristoppus bersifat badani (gerak dalam badan). Kemudian
membagi gerakan menjadi tiga kemungkinan :
a. Gerak
kasar, yang menyebabkan ketidaksenangan seperti rasa sakit.
b. Gerak
halus, yang membuat kesenangan.
c. Tiada
gerak, yaitu sebuah keadaan netral seperti kondisi saat tidur.
Aristippus melihat kesenangan sebagai hal aktual,
artinya kesenangan terjadi kini dan disini. Kesenangan bukan sebuah masa lalu
atau masa depan. Menurutnya, masa lalu hanya ingatan akan kesenangan (hal yang
sudah pergi) dan masa depan adalah hal yang belum jelas. Kesenangan yang
dijunjung tinggi oleh Aristoppus memiliki batasan berupa pengendalian diri.
Namun bukan berarti meninggalkan kesenangan. Misalnya, jika seseorang ingin
mencapai nikmat sepuasnya dari kegiatan seperti makan bukan dengan menyantap
makanan dengan sebanyak-banyaknya tetapi harus dibarengi dengan pengendalian
diri agar mencapai kenikmatan yang sebenarnya.
Asumsi awal dari faham ini adalah manusia selalu
mengejar kesenangan hidupnya, baik jasmani atau ruhani. Pencetus faham ini
Aristipos dan Epikuros. Tujuan paham aliran ini untuk menghindari kesengsaraan
dan menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Mereka
melihat bahwa manusia melakukan setiap aktivitas pasti untuk mencari kesenangan
dalam hidupnya. Dua filosof ini menganut aliran yang berbeda. Jika Aristipos
lebih menekankan kepada kesenangan badan atau jasad seperti makan, minum, dan
lain-lain. Sedangkan Epikuros lebih menekankan kepada kesenangan ruhani seperti
bebas dari rasa takut, cemas khawatir, panik, bahagia, gembira, tenang batin,
dan lain-lain. Namun, kedua-duanya berpendapat sama yaitu kesenangan yang
diraih adalah kesenangan yang bersifat pribadi, (egoisme) tapi diperlukan juga
aspek lain yaitu pengendalian diri.
Kala
itu, hedonisme masih mempunyai arti positif. Dalam perkembangannya, penganut
paham ini mencari kebahagiaan berefek panjang tanpa disertai penderitaan.
Mereka menjalani berbagai praktik asketis, seperti puasa, hidup sederhana agar
mendapat kebahagiaan sejati.
2.3 Pengertian Moral
Moral adalah ajaran tentang baikburuk suatu perbuatan
dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya (Purwadarminto: 1950: 957).
Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan,
serta sesuatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral
berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan antara perbuatan yang
benar dan yang salah. Dengan demikian, moral juga mendasari dan mengendalikan
seseorang dalam bersikap dan bertingkah laku.
Moral
merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral
juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan
(akhlak). Moralisasi, berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan
dan kelakuan yang baik. Demoralisasi, berarti kerusakan moral. Menurut
asal katanya “moral” dari kata mores dari bahasa Latin, kemudian
diterjemahkan menjadi “aturan kesusilaan”. Dalam bahasa sehari-hari, yang
dimaksud dengan kesusilaan bukan mores, tetapi petunjuk-petunjuk untuk
kehidupan sopan santun dan tidak cabul. Jadi, moral adalah aturan kesusilaan,
yang meliputi semua norma kelakuan, perbuatan tingkah laku yang baik.
Kata susila berasal dari bahasa Sansekerta, su artinya
“lebih baik”, sila berarti “dasar-dasar”, prinsip-prinsip atau
peraturan-peraturan hidup. Jadi susila berarti peraturan-peraturan
hidup yang lebih baik.
Pengertian
moral dibedakan dengan pengertian kelaziman, meskipun dalam praktek kehidupan
sehari-hari kedua pengertian itu tidak jelas
batas-batasnya. Kelaziman adalah kebiasaan yang baik tanpa pikiran
panjang dianggap baik, layak, sopan santun, tata krama, dsb. Jadi, kelaziman
itu merupakan norma-norma yang diikuti tanpa berpikir panjang dianggap baik,
yang berdasarkan kebiasaan atau tradisi.
Perbuatan manusia dikatakan baik apabila motivasi,
tujuan akhir dan lingkungannya juga baik. Apabila salah satu factor penentu itu
tidak baik, maka keseluruhan perbuatan manusia menjadi tidak baik.
Motivasi adalah hal yang diinginkan para pelaku perbuatan dengan maksud
untuk mencapai sasaran yang hendak dituju. Jadi, motivasi itu dikehendaki secara
sadar, sehingga menentukan kadar moralitas perbuatan.
Sebagai
contoh ialah kasus pembunuhan dalam keluarga:
- yang
diinginkan pembunuh adalah matinya pemilik harta yang berstatus
sebagai pewaris
- Sasaran yang hendak dicapai adalah penguasa harta warisan
- Moralitas perbuatan adalah salah dan jahat
- Sasaran yang hendak dicapai adalah penguasa harta warisan
- Moralitas perbuatan adalah salah dan jahat
Hal-hal
ini dapat diperhitungkan sebelumnya atau dapat dikehendaki ada pada perbuatan
yang dilakukan secara sadar. Lingkungan ini menentukan kadar moralitas
perbuatan yaitu baik atau jahat, benar atau salah.
2.4 Etika
Dari segi etimologi
(ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa yunani, ethos yang berarti
watak kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia etika berarti
ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Sedangkan etika menurut filsafat dapat disebut sebagai ilmu
yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal
perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Pada
dasarnya,etika membahasa tentang tingkah laku manusia.
Tujuan etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan
ide yang sama bagi seluruh manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran
tingkah laku yang baik dan buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran
manusia. Akan tetapi dalam usaha mencapai tujuan itu, etika mengalami
kesulitan, karena pandangan masing-masing golongan dunia ini tentang baik dan
buruk mempunyai ukuran (kriteria) yang berlainan.
Secara metodologi, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan
sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan
refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek
dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu
lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang
normatif, yaitu melihat perbuatan manusia dari sudut baik dan buruk .
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika
normatif (studi
penentuan nilai etika), dan etika
terapan (studi
penggunaan nilai-nilai etika). Adapun
Jenis-jenis Etika adalah sebagai
berikut:
1. Etika
Filosofis
Etika filosofis secara harfiah dapat
dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir,
yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari
filsafat; etika lahir dari filsafat. Ada
dua sifat etika, yaitu:
Non-empiris
Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang
didasarkan pada fakta atau yang kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian,
filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di
balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan
etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret yang secara faktual
dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak
boleh dilakukan.
Praktis Cabang-cabang filsafat
berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa
itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya
tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang
filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan
tidak boleh dilakukan manusia. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif,
dimana etika hanya menganalisis
tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil
melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan
kelemahannya.
2. Etika
Teologis
Terdapat dua
hal-hal yang berkait dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya
milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya
masing-masing. Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum,
karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara
umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum. Secara umum, etika teologis dapat
didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi
teologis. Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan
etika teologis. Setiap agama
dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan
menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara agama yang
satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika
teologisnya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Hedonisme
di kalangan remaja
Virus hedon tidak hanya menyerang orang dewasa yang
sudah bekerja. Dari anak hingga orang tua tak luput dari ancaman
virus ini.Anak punya kecenderungan hedonistis.Akibat kodrat biologis
dan belum jalanya daya penalaran, anak harus bergantung pada ibu atau
orang lain. Minum dibuatkan, makan disuapin, jalan jauh merengek
minta gendong.Ia menggantungkan hidupnya pada orang lain karena
memang ia belum sanggup mengerjakan sendiri.Ia hanya ingin nyaman dan
nikmat Hedonis?Ya,tapi lebih tepat disebut hedonis secara biologis.Bersama
dengan berjalannya waktu dan proses sosialisasi,ia akan mulai punya kesadaran
dan kemampuan menentukan pilihan.Nah,kalau ia sudah sampai pada taraf
kesadaran seperti itu namun tetap bersikap”kebayi-bayian”seperti tadi,barulah
ia disebut hedonis.
Generasi yang paling tidak aman terhadap sebutan
hedonis adalah remaja.Paham ini mulai merasuki kehidupan remaja.
Remaja sangat antusias terhadap adanya hal yang baru. Gaya hidup hedonis sangat
menarik bagi mereka. Daya pikatnya sangat luar biasa, sehingga dalam waktu
singkat munculah fenomena baru akibat paham ini.Fenomena yang muncul, ada
kecenderungan untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serbakecukupan tanpa
harus bekerja keras. Titel “remaja yang gaul dan funky ” baru melekat
bila mampu memenuhi standar tren saat ini.Yaitu minimal harus
mempunyaihandphone, lalu baju serta dandanan yang selalu mengikuti mode.
Beruntung bagi mereka yang termasuk dalam golongan berduit, sehingga dapat
memenuhi semua tuntutan kriteria tersebut.Akan tetapi bagi yang tidak
mampu dan ingin cepat seperti itu, pasti jalan pintaslah yang akan diambil.
Tidaklah mengherankan, jika saat ini muncul fenomena baru yang muncul di
sekitar kehidupan kampus..Misalnya adanya “ayam kampus” ( suatu pelacuran
terselubung yang dilakukan oknum mahasiswi ), karena profesi ini dianggap
paling enak dan gampang menghasilkan uang untuk memenuhi syarat remaja gaul dan funky.
Hidup adalah kesempatan untuk bersenang-senang bagi
mereka. Masa bodoh dengan kuliah, yang penting have fun tiap hari.
Hal ini bisa dianggap sebagai efek fenomena free sex yang melanda
kehidupan kaum muda sekarang.Sudah tentu, jika anggapan tentang seks bebas
diterapkan ke tengah-tengah pergaulan remaja, pastilah tidak etis. Sebab,
bangsa kita menganut adat-istiadat timur yang menganggap seks sebagai hal yang
sakral.Kemudian contoh kasus lain lagi, yaitu praktik jual beli nilai di kampus
yang sekarang sedang merebak. Jika dilihat lebih jauh, ternyata itu juga dampak
dari gaya hidup hedonis yang melahirkan adanya mentalitas instan. Segalanya
bisa diperoleh dengan uang dan kekuasaan. Bila demikian, otomatis semua urusan
beres. Akhirnya, semboyan non scholae sed vitae discimus (belajar
untuk bekal dalam menjalani kehidupan) pudar dan menghilang. Karena yang
diutamakan bukan proses melainkan hasil. Jika bisa memperoleh hasil dengan cara
simpel walaupun salah, mengapa tidak dilakukan? Untuk apa kita harus melalui
proses panjang dengan pengorbanan, kalau hasilnya sama.
Tak terasa, tapi efeknya tak terduga, paham hedonisme
terus berlangsung dan merasuk ke dalam benak masyarakat kita tanpa ada tindakan
pencegahan. Salah satu contoh kasusnya adalah acara-acara hedonisme yang
berkedok mencari bibit-bibit penyanyi berbakat.Acara ini sangant
diminati terutama para remaja.Bila dilihat secara jeli ternyata acara
tersebut menawarkan gaya hidup yang tidak jauh dari konsep Hedonisme. Acara ini
tentunya membutuhkan biaya yang banyak untuk memfasilitasi para kontestannya,
tapi bila melihat keadaan bangsa kita yang sedang morat-marit ekonominya, dapat
disimpulkan ada dua kondisi yang kontradiksi, disatu sisi lain keadaan
perekonomian bangsa sedang krisis tapi acara menghambur-hamburkan uang semakin
marak. Aneh memang, banyak warga Indonesia yang miskin, tidak punya rumah,
gedung sekolah yang hampir roboh, tunjangan pegawai yang kecil, dan jumlah
pegangguran yang membludak, tapi hal ini tidak membuat para peserta acara yang
sebagian besar adalah remaja tersebut prihatin atau menangis tersedu-sedu,
mereka malah sedih dan mengeluarkan air mata bila rekan seperjuangannya
tereleminasi. Nampak
jelas sikap egoisme dan sikap mengejar kesenangan pribadi mereka. Ini adalah
bukti hedonisme yang banyak menjadi impian anak-anak muda di negeri Seribu satu
masalah ini.
3.2 Dampak
Yang Ditmbulkan Dari Hedonisme
Pada dasarnya, setiap kesenangan
bisa dinilai baik, tapi setiap kesenangan itu tidak harus dimanfaatkan secara
berlebihan. Dalam hal ini, Epicuros mengajukan perbedaan dari tiga macam
keinginan yaitu: keinginan alamiah yang perlu seperti makanan, keinginan
alamiah yang tidak perlu seperti makanan yang istimewa, dan keinginan yang
sia-sia seperti kekayaan. Hidup yang baik adalah memenuhi keinginan alamiah
yang perlu semacam pola hidup sederhana sebagaimana anjuran dari Epikuros.
Orang yang bijaksana akan berusaha untuk sebisa mungkin terlepas dari
keinginan. Dengan demikian manusia akan mencapai ketenangan jiwa atau keadaan
jiwa yang seimbang yang tidak membiarkan diri terganggu oleh hal-hal lain.
Kesenangan yang berlebihan tanpa melihat orang-orang
disekitar sepertinya sudah mulai nampak di Indonesia. Sudah banyak masyarakat
di Indonesia tidak lagi mempedulikan budaya silaturahim antara individu satu
dengan individu yang lainnya, padahal budaya Indonesia sudah sangat terkenal
dengan keramahannya dengan masyarakat lain. Dan salah satu penyebab dari
masalah ini adalah pengaruh hedonisme. Hedonisme adalah pandangan hidup bahwa
kesenangan dan kenikmatan sebagai tujuan utama. Jadi bisa dikatakan bahwa para
penganut hedonisme ini lebih mementingkan kesenangannya, tidak lagi peduli oleh
orang yang berada disekitar mereka, karena yang terpenting buat mereka adalah
kesenangan. Salah satu contoh hedonisme seperti berfoya-foya dan hura-hura.
Dalam prospektif hedonisme para penganut hedonisme kebanyakan dari kalangan
menengah ke atas, karena dalam melampiaskan kesenangannya pasti uang yang
mereka keluarkan sangat banyak, tapi mereka tidak begitu mempedulikannya karena
yang terpenting bagi penganut hedonisme adalah kesenangan dan kepuasan.
Saat ini, budaya hedonisme sudah menjadi propaganda
yang sukses dan mengakar dalam jiwa-jiwa remaja. Namun ironismya lagi, para
remaja tak menyadari hal yang mereka lakukan adalah prilaku hedon. Oleh karena
itu, paham ini memberikan kontribusi negatif terhadap ideologi para
remaja/generasi muda yang berani membuat mereka berani menghalalkan segala cara
demi tercapainya kesenangan dan menjadikan remaja saat ini memiliki mental
lemah disertai dengan pemikiran yang sempit.
Ada
beberapa dampak buruk paham hedonisme diantaranya;
1. Pergaulan
bebas
Pengikut
paham hedonisme dapat terjebak dalam pergaulan dan mereka selalu berada dalam
dunia malam. Seperti clubbing, pesta narkoba, dan seks bebas.
a. Sex
bebas
Free
sex atau seks bebas merupakan dampak dari hasil budaya hedonisme. Bagi penganut
hedonisme, menganggap seks bebas hanya perbuatan biasa, karena
mereka sudah tidak lagi memikirkan salah atau benar, tapi yang
mereka pikirkan hanyalah kepuasan dirinya sendiri. Ironisnya, pada diri mereka
sudah tidak ada lagi rasa malu, bahkan mereka merasa bangga apabila sudah
melakukan perbuatan yang diharamkan oleh agama (perbuatan zina), kemudian
divideokan dan menyebarkannya melalui internet. Perbuatan tersebut sungguh
tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia, karena bangsa Indonesia menganut
adat istiadat timur yang menganggap seks sebagai hal yang sakral.
b. Narkoba
Narkotika
dan obat-obatan berbahaya, tidak lain adalah bom waktu yang siap menghancurkan
generasi-generasi penerus. Hal ini terbukti dari beberapa informasi yang
menyatakan bahwa para siswa SD pun sudah mulai mengkonsumsi zat haram tersebut.
Lalu bagaimana nasib masyarakat kita nantinya jika para generasi muda telah
mengalami ketergantungan pada narkoba? Namun, tidak hanya kalangan para pelajar
saja yang mengalami hal demikian. Narkoba memang sudah menjadi gaya hidup bagi
kebanyakan orang. Mulai dari kalangan penjabat, pengusaha, artis, seniman dan
pengangguran. Alasan mereka mengkonsumsi barang haram tersebut adalah untuk
mencari kenikmatan dan kesenangan. Narkoba menjadi barang pelarian dari setiap
masalah yang mereka hadapi. Tujuannya agar mereka tidak dirundung kesedihan dan
akhirnya diliputi dengan suasana senang dan nikmat.
2. Tawuran
Saat
ini tawuran sudah menjadi tren di kalangan sebagian remaja. Mereka merasa
senang sekali jika melakukan perbuatan anarkis, memperdaya dan menganiaya orang
lain. Dalam dirinya sifat empati dan simpati sudah hilang. Apalagi sikap saling
menghargai dan solidaritas. Hal ini disebabkan karena mereka selalu
mempertimbangkan untung dan rugi dalam bersosialisasi dan bermasyarakat.
3. Musik
dan Seni
Dunia
sepertinya sepi tanpa musik dan kehidupan seakan hampa tanpa seni, itulah
beberapa ungkapan para musisi dan seniman serta para penikmatnya. Konser-konser
musik digelar di setiap kota, namun tak jarang konser musik berlangsung banyak
korban yang berjatuhan karena berdesak-desakkan saat mereka asyik menikmati alunan
musik sang idola. Banyak di antara korban meninggal dunia. Namun, peristiwa
demi digelar walaupun bahaya maut menjadi taruhan. Musik dan seni sudah menjadi
hal yang penting dalam kehidupan para hedonis. Jiwa dan perasaan mereka semakin
nikmat dan melayang jika mendengarkan musik. Pahat-pahatan patung menjadi alat
untuk dinikmati. Padahal boleh jadi patung-patung tersebut adalah tokoh kaum
kafir atau setidaknya menonjolkan unsur pornografi. Manusia telanjang dan
aktivitas-aktivitas seksual ditampilkan dalam sejumlah karya seni paleolitik,
seperti patung venus. Tidak jarang kita melihat lukisan-lukisan telanjang
terpampang namun mereka menganggap sebagai karya seni yang patut dihargai.
4. Pariwisata
Salah
satu upaya untuk menyalurkan kesenangan ialah dengan berwisata. Pada dasarnya
seseorang boleh-boleh saja berwisata selama kreativitas tersebut tidak
melanggar nila-nilai syar’i. adapun yang sering jadi pembahasan saat ini adalah
tempat-tempat wisata serta kreativitasnya yang senantiasa menjurus kepada
kemaksiatan. Banyak tempat wisata terkadang menjadi area yang tepat untuk pesta
narkoba dan miras. Biasanya mereka melakukan hal tersebut di tempat-tempat
penginapan. Mulai dari hotel yang bertarif murah sampai hotel-hotel mewah,
ditawarkan berbagai layanan kepada para pengunjung bebas melakukan apapun.
Mereka yang sering melakukan hubungan seks adalah para pekerja industri
pariwisata, supir, wisatawan lokal, wisatawan asing yang berbisnis serta
tinggal di Bali. Biasanya para pekerja seks tersebut menyamar sebagai pemandu
wisata illegal, pedagang asongan pegawai salon kecantikan, penyewa
papan selancar dan penjual makanan serta minuman.
5. Perfilman
Acara-acara
yang disuguhkan kepada masyarakat kerap tidak pernah terlepas dari prilaku
hedonis. Tidak hanya di layar kaca, kehidupan selebriti pun sangat kental
dengan budaya hedonisme. Kehidupan glamour senantiasa melekat dalam keseharian
para bintang film. Penayangan tindakan kekerasan dan seksual di media-media
masa, televisi, telah menyebabkan masyarakat negeri ini dilanda gelombang
kejahatan. Kondisi ini memprihatinkan dan membahayakan bagi generasi muda,
karena adegan-adegan kekerasan seringkali ditiru. Dengan kata lain, film dan
acara-acara televisi yang ditayangkan adalah jalan yang sangat mulus dalam
upaya penyebaran budaya hedonisme dan kebebasan.
6. Matrealistis
Merupakan
bagian dari budaya hedonisme yang merasa tidak puas dengan sesuatu yang sudah
dimilikinya. Dan selalu iri jika melihat orang lain.
7. Pemalas
Malas
merupakan akibat yang ditimbulkan dari budaya hedonisme, karena mereka selalu
menyia-nyiakan waktu. Manusia menjadi tidak menghargai waktu. Kurangnya
kesadaran dalam mempergunakan waktu, komunitas, dan pergaulan.
8. Tidak
Bertanggung Jawab
Menjadi
individu yang tidak bertanggung jawab terutama kepada dirinya sendiri, seperti
menyia-nyiakan waktu, dan mementingkan kesenangannya saja.
9. Konsumtif
& Boros
Hedonisme
cendurung konsumtif, karena menghabiskan uang untuk membeli barang-barang
yang hanya untuk kesenangan semata tanpa didasari kebutuhan.
Menghambur-hamburkan uang untuk membeli berbagai barang yang tidak penting,
hanya untuk sekedar pamer merk/ barang mahal.
3.3 Solusi
Mengatasi Budaya Hedonisme
Untuk mengantisipasi dampak negative
budaya hedonisme bagi remaja maka perlu untuk melakukan cara atau sousi yaitu:
1.
Pentingnya
kearifan dalam memilih barang agar tidak terjebak dalam konsumerisme.
2.
Menerapkan
pola hidup sederhana adalah salah satu pilihan alternative untuk membasmi
budaya hedonisme di kalangan remaja. Kegiatan sehari-hari diperlukan untuk
mengatur keuangan remaja agar pendapatan yang biasanya berasal dari orang tua
tidaklah kecil daripada pengeluaran. Pasalnya dengan menerapkan pola hidup yang
sederhana, orientasinya lebih akurat serta tidak terlalu memberatkan
fikiran Pola hidup sederhana juga memberi pengaruh yang signifikan
terhadap pergaulan remaja dengan remaja lainnya, karena di pandang
sangat supple dalam bergaul dan tidak memandang lawan bergaul dari
segi apapun. Itulah alasan pola perilaku sederhana itu sangat berpengaruh
terhadap penghapusan hedonisme dalam kalangan remaja.
3.
Adanya
kedewasaan dalam berfikir sehingga remaja dapat membentengi diri dari pola
hidup hedonisme terutama konsumerisme.
4.
Dalam
memilih barang remaja perlu membuat skala prioritas dalam berbelanja sehingga
dapat membedakan barang yang benar-benar diperlukan dengan barang-barang yang
diinginkan namun tidak diperlukan.
5.
Tidak
memilih gaya hidup hedonisme, karena gaya hidup ini tidak akan pernah
membentengi kepuasan dan kebahagiaan ibarat minum air garam, makin diminum
makin haus. Bagi yang belum terlanjur menjadi pengidola hedonisme maka
segeralah balik kiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagiaan
hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali untuk menyuburkan
akar-akar spiritual kembali ke jalan Ilahi, tumbuhkan jiwa peduli pada sesama –
buang jauh-jauh karakter selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi
kekuatan – kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat beribadah,
kuat mencari rezeki.
6.
Kritis
Dalam Bertindak dan Bertingkah Laku
Menjadi
remaja yang kritis dan peka terhadap lingkungan adalah bukan sebuah pilihan,
melainkan sebuah keharusan. Karena dengan kita menjadi remaja yang kritis kita
mampu mengkaji serta mengambil tindakan yang tepat dan efisien dalam menghadapi
masalah-masalah yang menghadapi kita. Dengan begitu paradigma berfikir remaja
akan menjadi sebuah praktek yang nyata dan bukan menjadi sebuah wacana belaka.
Maka dengan begitu pula secara tidak langsung kita dapat memarginalkan
hedonisme didalam kehidupan remaja dan beralih kepada perilaku-perilaku yang
positif serta dapat membantu sesama dengan keikhlasan dan keyakinan yang teguh
akan perubahan.
7.
Kontrol
Pengeluaran Bahan Produksi
Pengeluaran
bahan produksi disini maksudnya adalah modal yang berbentuk materil maupun non
materil, bahan materil disini maksudnya seperti uang, sedangkan bahan produksi
yang non materil itu berupa selain dari uang seperti tenaga dan alat
transportasi.
Pada
intinya pencegahan hedonisme dalam remaja itu terletak pada keyakinan (trust)
yang teguh serta praktek yang nyata dari remaja itu sendiri. Itu lah beberapa
cara yang mungkin dapat meminimalisir budaya hedonis itu timbul dalam dunia
remaja.
BAB IV
KESIMPULAN
4.1
Kesimpulan
Hedonisme
dikalangan pesat mengikuti perkembagan jaman pola piker yang hanya mementingkan
kesenangan saja membuat para remaja terbuai dalam sebuah kehidupan yang kadang
tidak realistis. Setiap manusia pasti ingin merasakan dan kesenangan, apalagi
para remaja. Tapi sayag nya untuk memperoleh kenikmatan dan kesenangan tersebut
banyak remaja yang menghalalkan segala cara. Apapun mereka lakukan, agar apa
yang mereka iginkan dapat mereka peroleh tanpa peduli dengan resiko nya.
Sementara itu berkenaan dengan hedonisme etis ada dua gagasan yang patut
diperhatikan. Pertama, kebahagiaan tidak sama dengan jumlah perasaan nikmat.
Nikmat selalu berkaitan langsung dengan sebuah pengalaman ketika sebuah
kecondongan terpenuhi, begitu pengalaman itu selesai, nikmatpun habis.
Sementara itu, kebahagiaan menyangkut sebuah kesadaran rasa puas dan gembira
yang berdasarkan pada keadaan kita sendiri,dan tidak terikat pada
pengalaman-pengalaman tertentu. Dengan kata lain, kebahagiaan dapat dicapai
tanpa suatu pengalaman nikmat tertentu. Sebaliknya, pengalaman menikmati belum
tentu membuat bahagia. Kedua, jika kita hanya mengejar nikmat saja, kita tidak
akan memperoleh nilai dan pengalaman yang paling mendalam dan dapat
membahagiakan. Sebab, pengalaman ini hanya akan menunjukan nilainya jika
diperjuangkan dengan pengorbanan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Zulkifli, Al Ridho. 2014. GAYA HIDUP HEDONISME DI KALANGAN
MAHASISWA PENERIMA BEASISWA KALTIM CEMERLANG. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK UNIVERSITAS MULAWARMAN
2.
Sari Pramita, Ni Made Isti. 2013. Peran Gaya Hidup
Hedonisme dan Locus of Control Dalam Menjelaskan Kecenderungan Shopping
Addiction Pada Remaja Putri
3.
Asmanita,
Afni. 2003. Gaya Hidup Klik pada Mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).
Padang.
4.
Kusumanugraha,
C. 2003. Fenomena Gaya Hidup Hedonis pada Remaja. (UNIKA). Semarang.
5.
Mappiare,
Andi. 1984. Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya
6.
Susianto,
H. 1993. Studi Gaya Hidup Sebagai Upaya Mengenali Kepentingan Anak Muda. Jurnal
Psikologi dan Masyarakat, Vol. 1, No. 1. Grasindo, Jakarta.
7.
Suseno,
Franz Von Magnis. Etika Umum: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Jogjakarta:
Kanisius, 1979.
8.
Masmuadi,
A. (2007). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecenderungan Gaya Hidup Hedonis
Pada Remaja. Skripsi. Universitas Islam Indonesia.
9.
Salam,
B. (2002). Etika Individual: Pola Dasar Filsafat Moral. C.I. Jakarta: Rineka
Cipta.
10.
Sholihah,
N. A. dan Kuswardani, I. (2011). Hubungan Antara Gaya Hidup Hedonis dan
Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Konsumtif Terhadap Ponsel Pada Remaja.
11.
Martha,
S. H. dan Setyawan, I. (2010). Correlation Among Self-Esteem with A Tendency
Hedonist Lifestyle of Students At Diponegoro University. Jurnal. Diakses
melalui http://www.eprints.undip.ac.id tanggal 27 Januari 2013.
12.
Edwards,
E. A. (1993). Development of a New Scale Measuring Compulsive Buying Behavior.
Michigan: Michigan University Dept.
13.
Juhana, S Praja. 2003. Alran-Aliran Filsafat Dan Etika.
Jakarta. Prenada Media.
14.
Duncan,
A.R.C., Moral Philosophy, Canada: CBC Publications, 1970
15.
Audi,
Robert, The Cambridge Dictionary of Philosophy, New York: Cambridge
University Press, 1999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar